BRAVO KOPMA !!
untuk memberikan kemudahan bagi anggota agar dapat memiliki buku RAT XXVIII tanpa harus datang ke Kopma, silakan download Buku RAT XXVIII melalui link ini :
http://www.ziddu.com/download/13931234/BUKURATXXVIIIpracetak.rar.html
BRAVO KOPMA !!
untuk memberikan kemudahan bagi anggota agar dapat memiliki buku RAT XXVIII tanpa harus datang ke Kopma, silakan download Buku RAT XXVIII melalui link ini :
http://www.ziddu.com/download/13931234/BUKURATXXVIIIpracetak.rar.html
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bravo KOPERASI MAHASISWA !!!
Selamat Datang di Webblog KOPMA UIN Sunan Kalijaga. Dengan segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan ijinNya, kami dapat meluncurkan website (webblog) Koperasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan website ini kita berharap dapat memberikan semua visualisasi mengenai aktifitas organisasi Koperasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, baik dalam bidang pengembangan bisnis yang dikelola, maupun dalam bidang pengembangan organisasi dan pembentukan kader organisasi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
“Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.
“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,
“Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”
Dari materi oleh: Chuck Gallozzi
“Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”
–Robert H. Schuller–
Masih ingat “Little House On The Prairie”? Michael Landon, salah satu orang terkenal yang kebetulan mati cepat, pernah mengatakan begini, “Seseorang semestinya mengatakan kepada Kita, segera setelah Kita lahir, bahwa Kita baru saja memulai perjalanan menuju kematian. Kemudian, Kita jalani kehidupan sampai pada batasnya, setiap menit setiap hari. Lakukan! Apa pun yang ingin Kamu lakukan, lakukanlah sekarang! Apa yang disebut besok jumlahnya tidaklah terlalu banyak.”
Ia mengatakan hal itu saat ia menyadari bahwa dirinya mengidap kanker pankreas, di bulan Juli 1991. Ia meninggal di usia 54. Dengan reputasi dan buah karyanya, ia telah menunjukkan kepada Kita bahwa menunda-nunda adalah tumor ganas yang menghambat diri Kita dari pencapaian potensi yang maksimal. Dia telah memilih dirinya untuk menjadi manusia yang bertindak.
Apakah Kita akan menyadarinya, seperti Michael Landon, bahwa kemajuan Kita telah terhambat, bukan oleh apa yang ingin Kita lakukan dan tidak bisa, tapi oleh apa yang Kita inginkan dan tidak Kita lakukan?
BERTINDAK ATAU TIDAK BERTINDAK ADALAH PILIHAN
Mereka yang memilih bertindak, adalah mereka yang memilih untuk hidup. Dan hidup itu sendiri, adalah ekspresi dari berbagai tindakan. Kita selalu bisa memilih untuk bertindak atau tidak bertindak. Kita juga bisa memilih untuk benar atau salah. Kita juga bisa memilih untuk berbuat baik atau hanya merasa baik.
Pengalaman telah mengajari Kita tentang minimnya berbagai hal yang Kita lakukan, sedikitnya hal yang bisa Kita lakukan, banyaknya hal yang Kita lakukan dan banyaknya hal yang bisa Kita lakukan. Makin lama Kita berdiam diri, akan makin sulit bagi Kita untuk merangkak keluar dari pasir penghisap yang makin menenggelamkan. Sementara itu, setiap tindakan benar akan mendorong Kita maju, dan setiap tindakan salah akan menarik Kita mundur. Dengan kata lain:
- Tidak mengambil tindakan mengarah pada kelumpuhan;
- Tindakan yang benar mengarah pada kemajuan; dan
- Tindakan yang salah mengarah pada kemunduran.
Helen Keller, seorang wanita buta yang sukses mendunia, tidak menjadikan kebutaan dan sekaligus ketuliannya sebagai alasan untuk tidak bertindak. Sebaliknya ia berkata, “Saya ini cuma satu, dan tetaplah akan hanya satu. Saya tidak bisa melakukan segala hal, tapi Saya tetap bisa melakukan berbagai hal; Dan karena Saya tidak bisa melakukan segala hal, Saya tidak akan menolak melakukan berbagai hal yang masih bisa Saya lakukan.” Ia mengerti bahwa jika Kita ingin maju, Kita harus memulainya.
KITA TELAH DIBERI SK UNTUK BERKREASI
Pernahkah Anda mendapatkan ide yang bagus? Ya pasti! Kita semua pasti pernah. Tidak ada kata kurang untuk berbagai ide yang bagus. Yang ada adalah kekurangan dalam tindak lanjut.
Banyak dari Kita yang punya ide brilian, tapi gagal mengambil tindakan untuk merealisirnya. Berbagai ide hanya akan menjadi impoten, kecuali jika Kita tiupkan nafas kehidupan ke dalamnya. Sudah dari sononya, bahwa setiap Kita adalah makhluk kreatif. Dan Kita, tidak sama dengan hewan atau tumbuhan. Manusialah yang diberi kesempatan untuk berkreasi oleh-Nya.
Keberadaan berbagai benda yang berguna di sekitar Kita, menjadi ada dan berguna karena Kita — manusia dengan izin-Nya, mengkreasinya. Semua itu menjadi kekuatan kemanusiaan, dan kekuatan itu dilahirkan oleh berbagai tindakan.
Kita, bahkan juga diizinkan-Nya untuk ‘mengkreasi’ diri sendiri. Kelahiran Kita telah dititipi oleh pilihan itu. Kita menjadi berani dengan bertindak berani. Menjadi bersemangat dengan bertindak penuh semangat. Menjadi mengerti dengan bertindak untuk mengerti. Jika Kita terjebak dalam masalah, tindakan adalah derek yang akan menarik Kita keluar darinya.
Jika Kita terjebak dalam rundung kemalangan, apalagi obatnya jika bukan tindakan?
Apakah nasib Kita disegel oleh berbagai keadaan yang Kita hadapi, atau digerakkan oleh berbagai tindakan yang Kita ambil berdasarkan berbagai situasi itu?
Bagaimana Kita bisa mengalami kenikmatan pencapaian atau rasa kemenangan tanpa tindakan?
Tindakan adalah guru Kita, untuk ‘learning by doing’. Melalui tindakanlah Kita bisa mengontrol nasib Kita dengan membentuk masa depan dan menciptakan berbagai alasan untuk keberadaan Kita di dunia, di bawah alasan penciptaan oleh-Nya.
TINDAKAN ADALAH PERUBAHAN
Tindakan akan merubah Kita dari konsumen menjadi kontributor. Setiap tindakan yang Kita ambil adalah goresan kuas dalam lukisan kehidupan Kita. Kekuatan untuk bertindak adalah kekuatan untuk berkreasi. Itulah berkah terbesar untuk umat manusia dari-Nya. Alam semesta adalah simfoni sempurna cintaan-Nya, dan segala tindakan Kita menjadi nada-nada yang mestinya harmoni dengan aransemen-Nya.
Bagaimanakah lagi Kita akan mengetahui rupa akhir lukisan itu, selain dari mengibaskan kuas di atas kanvas?
Lantas, bagaimana Kita harus bertindak?
Ada ungkapan yang cukup bijak dari seorang Henri L. Bergson, “Berpikir sebagai manusia yang bertindak, dan bertindak sebagai manusia yang berpikir.” Karena beratnya akibat tindakan Kita atas dunia dan isinya, Kita harus berpikir sebelum bertindak. Kita harus bertindak dengan penuh tanggung jawab.
Kapan Kita harus bertindak?
Bagaimana dengan rentang waktu antara kemarin dan besok? Tak usah ditunggu yang namanya waktu sempurna, sebab waktu tak akan pernah sempurna sampai Kita mengambil tindakan di dalamnya.
Setiap hembusan nafas Kita diperhitungkan. Setiap hembusan nafas berarti bertahan hidup. Dan tindakan, adalah nafas dari jiwa Kita. Biarkanlah setiap hembusan nafas masuk hitungan.
Jangan campur aduk aktivitas tidak sungguh-sungguh, atau gerakan sederhana dengan TINDAKAN. Aktivitas tak berguna akan menghancurkan waktu, sementara tindakan akan menciptakannya. Menurut Robert L. Stevenson, “Nilailah setiap hari tidak dari panennya, tapi dari bibit yang ditanam.” Dan Robert J. Mckain mengatakan, “Konsepsi umum yang berlaku adalah ‘motivasi mengarah pada tindakan’, padahal yang benar adalah sebaliknya. Tindakanlah yang akan memicu motivasi.” Dan jika Kita muslim, setiap tindakan akan selalu berada di antara dua motivasi.
BERTINDAKLAH SEKARANG!
Kita tidak dijamin untuk sukses atas setiap tindakan yang Kita lakukan. Tapi ingatlah bahwa setiap doa pasti didengar dan dijawab. Sukses tidak bisa dicari dalam keuniversalan, ia ada di dalam kekhasan. Definisikanlah sasaran dengan tepat, dan pecahlah ia menjadi serangkaian langkah dan tindakan. Lalu: ACTION!
Lupakah Anda, bahwa Andalah sang sutradara?
Gagasan mendirikan Kopma IAIN muncul pada tahun 1982. Pada saat itu saudara Muhammad Iqbal Tuasikal bersama Rini Indriati mengikuti pelatihan bagi calon pengurus koperasi pemuda/mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dekopinwil Bidang Generasi Muda Propinsi DIY di Kaliurang. Setelah itu dengan didasari ide perlunya pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan bersama diantara mahasiswa terutama dalam kegiatan proses belajar mengajar, maka dibentuklah tim pendiri Kopma IAIN. Tim ini terdiri dari M. Iqbal Tuasikal (Fak. Ushuluddin) Rini Indriati (Fak. Tarbiyah), Muchtaruddin (Fak. Tarbiyah), Noor Huriyati (Fak. Syariah) dan Suryo Darma (Fak. Adab).
Dengan berbekal semangat dan idealisme yang tinggi pada tim penggalang tersebut, maka di-selenggarakan rapat pembentukan pada tanggal 24 November 1982. Rapat ini dihadiri oleh sekitar 22 Mahasiswa yang sekaligus menjadi anggota pertama serta disaksikan oleh pejabat Dekopinwil DIY Drs. Subawanto dan Rektor IAIN Prof. H. Zaini Dahlan, MA. Pada saat itu berhasil ditetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggga serta Pengurus dan Pengawas periode pertama.
Kegigihan serta keuletan yang tinggi dari para pengurus periode pertama tidak diragukan lagi, walaupun berbagai halangan dan rintangan setiap hari mereka rasakan. Hal demikian, dengan semangat kemandirian yang tinggi sedikitpun tidak melemahkan tekad pengembangan Kopma. Hingga akhir kepengurusan periode pertama Ketua Umum: M. Iqbal Tuasikal, Bidang Admum: M. Fauroni, Bidang Anggota: Antoni Jamil dan Sartini S.R., Bidang Keuangan: Noor Huriyati, Bidang Usaha: Rini Indriyati. Suatu prinsip yang mereka pegang bahwa perjalanan organisasi ditentukan oleh generasi penerusnya. Maka sejak itulah dimulai regenerasi dan serta proses pengkaderan generasi yang berkesinambungan.
Resmi menjadi badan hukum sejak tanggal 9 September 1983 dengan nomor: 1294/BH/1983. Guna penyesuaian terhadap nilai dan semangat UU No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, maka badan hukum tersebut dirubah dengan nomor: 13/BH/PAD/KWK-12/XI/1995 sejak tanggal 22 November 1995.
Pada mulanya Kopma hanya menempati ruangan 2×3 m yang berfungsi sebagai kantor Pengurus dan Pengawas serta unit usaha Toko Buku. Kemudian tahun 1984 unit usaha KOPMA ditambah dengan unit usaha Kafetaria dan Mini Market. Pada tahun 1987 kopma membuka layanan pos dan giro. Sejak bulan november 1998, unit toko buku dan mini market digabung menjadi unit swalayan. Dalam perkembangannya pada tahun 2002, kedua unit usaha ini dipisah kembali guna lebih memudahkan proses administrasi. Tanggal 26 Januari 1994 dengan diresmikan langsung oleh Menteri Koperasi dan PPK (Drs. Subiyakto Tjakrawerdaja) berdiri unit usaha wartel yang digabungkan dengan layanan pos dan giro menjadi unit usaha Warpostel. Layanan Biro Perjalanan dan Wisata merupakan pengembangan unit usaha sejak tahun 1998 yang digabungkan dengan unit usaha Warpostel. Kopma juga pernah membuka unit usaha warnet sejak tahun 1998 hingga 2002. Tidak menutup kemungkinan Kopma akan membuka unit usaha lain demi memberikan kesejahteraan kepada seluruh anggotanya.
Pengembangan terhadap layanan setiap unit dilakukan sejak tanggal 23 Mei 2002 dengan diresmi-kannya gedung baru Kopma oleh Rektor UIN, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, MA. Pembangunan gedung baru Kopma berasal dari dana hibah Departemen Agama RI sebagai penghargaan kepada Kopma selaku pilot project pengembangan Koperasi Mahasiswa PTAI se-Indonesia.
Pasca gempa tahun 2006 yang berimbas pada robohnya bangunan usaha Kopma, menuntut Kopma untuk senantiasa bekerja keras untuk tetap eksis dalam perjalanannya. Pada tahun ini juga Kopma mendapat bantuan Rp40.000.000 dari NFUCA (Federasi Koperasi Universitas di Jepang). Dengan bantuan ini, Kopma mendirikan Kantor Pengurus dan Ruangan yang digunakan untuk usaha Warpostel. Namun, dalam perjalanannya UIN Sunan Kalijaga pascagempa mengadakan renovasi bangunan secara keseluruhan yang imbasnya Kopma harus pindah dari bangunan tersebut. Oktober 2007 Kopma pindah ke Gedung Campus Service Center (CSC) sampai sekarang dan menempati dua lantai di bagian timur CSC.